Diam Mematung
Sore itu tampak cerah. Gak kerasa deh kalau lagi puasa dan lapar buanget! hehehe….
Aku tersenyum tipis melihat banyak para pedagang makanan dan minuman begitu gencar menjajakan dagangan mereka. Berjuta harapan membuncah. Tidak laku semua, paling tidak ada sedikit yang di dapat untuk makan keluarga di rumah.
"Persiapan buat buka!" "Ayo siapa lagi minumnya?" "Rotinya seribu saja!" "Kolaknya, Bu?"
Aku lagi-lagi tersenyum tipis… Dan menggeleng lemah. Bukan karena puasa, tetapi karena tak mampu membantu mereka dengan membeli. Sok sosial? Bukan juga. Hanya sekedar merasakan perjuangan mereka. Aku pun seperti mereka. Sulitnya mendapatkan pembeli. Pergi Subuh pulang Isya. Karena sekarang aku tak lagi bisa menemani "Teman Sejatiku" berjualan roti, aku hanya bisa meringis bila pendapatan hari itu sedikit.
Aku hanya diam mematung menyaksikan drama di sekitarku. Sekilas aku lihat ke atas jembatan yang persis berada di atas halte Busway Dukuh Atas. Seorang ibu dan "anaknya" (entahlah?) yang berusia 10 bulan duduk tersenyum. Aku tak dapat menjabarkan arti senyumnya. Berjuta tanya hinggap di kepalaku. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….(Iwan Fals)
Anak yang polos itu tersenyum manis sekali saat aku menatapnya. Aku jadi ingat Umar… Jagoan kecilku yang selalu kurindukan itu…Lagi-lagi aku harus menahan rasa sesak di dada. Sok sentimentil? Terserah deh!
Tapi aku kok ya merasa gak berdaya melihat kaum marginal itu setiap hari melintas menari di depan mataku. Akunya yang bakalan jadi cengeng. Sebel.
Jadi, aku hanya diam mematung. Lupakan makan malam di KFC atau sekedar menikmati kopi di Starbucks. Aku membayangkan mereka minum air mentah dan nasi basi.Ini kenyataan. Lupakan memborong produk sale di Centro atau Metro. Punya sehelai pakaian super lusuh pun sudah syukur.
Aku sering membayangkan menjadi bagian dari mereka… Aku pernah merasakannya…
Aku naik bus yang akan mengantarku pulang ke rumah. Aku mulai menangis…
kapan lebaran ya?