Archive for September, 2007

Merindumu

Wednesday, September 26th, 2007

Tak ada yang salah dengan dirimu

Aku yang selalu menyusahkanmu dengan emosiku. Aku yang selalu meninggikan suaraku di hadapanmu. Aku yang kurang peka akan kebutuhanmu. Aku yang selalu merasa ‘lebih’ darimu.

Ada sesuatu dalam dirimu

Ketika aku pernah membuat harapan di masa kecilku tentang pangeran yang baik hati. Ketika di sebuah malam Ramadhan aku menangis karena cintaNya. Ketika aku melihat senyummu untuk pertama kali. Ketika Allah menunjukkan kuasaNya atas diriku.

Ada harapan yang membentang

Kita akan selalu berjalan bersama. Kita akan selalu saling melengkapi dan menasehati. Kita akan selalu menengok ke belakang untuk menatap masa depan. Kita akan selalu ingat janji kita pada Allah.

Tak akan mudah untuk menghadapinya. Namun aku yakin kita mampu. Untuk itulah Allah menyatukan kita. Untuk itulah aku selalu merindukanmu.

Aku mencintaimu karena Allah…

Diam Mematung

Monday, September 24th, 2007

Sore itu tampak cerah. Gak kerasa deh kalau lagi puasa dan lapar buanget! hehehe….

Aku tersenyum tipis melihat banyak para pedagang makanan dan minuman begitu gencar menjajakan dagangan mereka. Berjuta harapan membuncah. Tidak laku semua, paling tidak ada sedikit yang di dapat untuk makan keluarga di rumah.

"Persiapan buat buka!" "Ayo siapa lagi minumnya?" "Rotinya seribu saja!" "Kolaknya, Bu?"

Aku lagi-lagi tersenyum tipis… Dan menggeleng lemah. Bukan karena puasa, tetapi karena tak mampu membantu mereka dengan membeli. Sok sosial? Bukan juga. Hanya sekedar merasakan perjuangan mereka. Aku pun seperti mereka. Sulitnya mendapatkan pembeli. Pergi Subuh pulang Isya. Karena sekarang aku tak lagi bisa menemani "Teman Sejatiku" berjualan roti, aku hanya bisa meringis bila pendapatan hari itu sedikit.

Aku hanya diam mematung menyaksikan drama di sekitarku. Sekilas aku lihat ke atas jembatan yang persis berada di atas halte Busway Dukuh Atas. Seorang ibu dan "anaknya" (entahlah?) yang berusia 10 bulan duduk tersenyum. Aku tak dapat menjabarkan arti senyumnya. Berjuta tanya hinggap di kepalaku. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….(Iwan Fals)

Anak yang polos itu tersenyum manis sekali saat aku menatapnya. Aku jadi ingat Umar… Jagoan kecilku yang selalu kurindukan itu…Lagi-lagi aku harus menahan rasa sesak di dada. Sok sentimentil? Terserah deh!

Tapi aku kok ya merasa gak berdaya melihat  kaum marginal itu setiap hari melintas menari di depan mataku. Akunya yang bakalan jadi cengeng. Sebel.

Jadi, aku hanya diam mematung. Lupakan makan malam di KFC atau sekedar menikmati kopi di Starbucks. Aku membayangkan mereka minum air mentah dan nasi basi.Ini kenyataan. Lupakan memborong produk sale di Centro atau Metro. Punya sehelai pakaian super lusuh pun sudah syukur.

Aku sering membayangkan menjadi bagian dari mereka… Aku pernah merasakannya…

Aku naik bus yang akan mengantarku pulang ke rumah. Aku mulai menangis…

kapan lebaran ya?

Terkaget-kaget

Monday, September 17th, 2007

Masya Allah! Aku sudah tua ya? Jelang usia 30 ini… Rasanya kok gemeteran kalo inget2 jadul… Lahir, tumbuh berkembang, terjatuh dan bangun tapi jatuh lagi, sekolah, tau yang namanya cowok (lho?), kuliah, mengenal apa itu Syi’ah (and almost there!), ‘bertaubat’, menikah, punya anak….

APA LAGI???

Melihat daftar teman2 yang berserakan di mana-mana dalam situs FS ini (ternyata menakjubkan!)… Ya Allah, betapa aku sangat merindukan semuanya! Teman masa kecil, masa sekolah, masa kuliah, masa bertaubat, semuanya…

Hampir semua memamerkan pasangan bahkan ‘buntut’ masing2. Jadi lucu dan geli. Kalau situs FS ini adanya 10 tahun yang lalu… kebayang gak seh bakalan kayak gini? Hhhhh…. Life must go on

Teman2 yang aku rindukan, yang aku cari, yang aku sayang… Tiba2 kok aku ingin menangis bahagia. Ternyata kalian masih ada. Hanya saja entah di mana. Ternyata aku sadar betapa teman2 begitu mengagumkan. Sungguh! Dengan kepribadian masing… Saling melengkapi… Rasanya kerinduan ini begitu menggelegak.

Banyak.. Masih banyak yang belum aku temukan di FS ini. Aku akan terus mencari sampai (mungkin) aku mati. Ternyata temanku banyak. Tiba2 aku merasa kehilangan…

REUNI??????

Dengan kesibukan masing2…Apa bisa???

lagi bingung dan laper bin ngantuk….

Sudah Berubah

Tuesday, September 11th, 2007

Gak banyak yang tau kalo aku sudah berubah. Hampir…enam tahun. Dan (hampir) seluruh aspek kehidupanku juga berubah. Terutama dari segi spiritual. Sok suci? Terserah deh… Aku mencoba untuk berubah. Sulit. Teramat sulit. Jika melihat jauh kebelakang, sungguh rasanya menangis seluas samudra pun takkan mengurangi rasa penyesalan itu…

Yang mengenalku dengan baik mengerti akan keegoisanku dulu. Pokoknya kudu dan mesti harus pendapatku yang bener. Lupa deh kalo di dunia ini semuanya berdampingan. Aku hampir tak bisa menghargai orang lain. Pun ortuku sendiri.  Ketika almarhumah mama memintaku untuk menemaninya di kamar rumah sakit yang dingin dan sepi, aku malah pulang dengan dalih ujian matematika. Ketika nilaiku hanya dapat 4 (empat!), aku tidak menangis.

Ketika aku terus menerus memaksa almarhum bapak mentransfer sejumlah uang dengan dalih dana kuliah padahal bapakku lagi krisis, aku tak peduli dengan mata bapak yang bertelaga bening…

Dulu aku berhati batu. Tak ada rasa empati. Iba melihat kantong2 kemiskinan ibukota, tapi boro2 ngerasain SEANDAINYA aku yang menempati posisi mereka (I did).

Dulu suara ‘kebun binatang’ bisa terdengar dari mulutku saban waktu. Tak peduli orang lain sakit hati kukatai habis2an. Pokoknya aku puas, meski setelah itu harus bertengkar.

Aku anak nakal. Liar. Brutal. Entah apa lagi… Aku frustrasi. Itukah sebabnya aku sering diajak mama ke psikolog? (Kenapa gak ke psikiater sekalian?) Ada yang salah dalam diriku. Mungkin.

Kalau sekarang aku berubah, adakah yang percaya? Adakah yang mau menerima? Aku sendiri gak tau dan pasrah.

Ramadhan kali ini, saatnya aku berubah lagi. Kembali menjadi kepompong Ramadhan agar kelak di hari yang fitri aku bisa menjadi kupu2 yang cantik…Amien…

Rezeki Ramadhan

Tuesday, September 11th, 2007

Alhamdulillah… Sebentar lagi Ramadhan, bulan yang sangat aku tunggu! Insya Allah sampai aku pada bulan penuh rahmat dan maghfirah…

Di bulan ini pula… Karunia dari Allah datang setelah melalui proses jatuh bangun, penuh caci maki dan hinaan, darah dan air mata, kepasrahan tak berujung…

Sungguh, aku percaya bahwa Allah sangat mencintaiku. Aku pun percaya bahwa Allah tak akan meninggalkanku walau sedetik! Allah memilih Ramadhan ini hanya untukku! Hadiah dari Allah yang terindah dan penuh berkah, insya Allah…

Mohon maaf lahir bathin kepada semua saudaraku seiman di mana berada. Terima kasih atas doa dan bantuan kalian selama ini. Tanpa kalian, aku bukan apa2.

Suamiku tercinta atas kepercayaannya kepadaku untuk memegang amanah ini. Mohon bersabar dalam mengasuh anak kita selama aku gak di rumah ya?

Anak2 manis, Ainun dan Umar… cinta bunda pada kalian insya Allah selamanya. Rezeki yang ada pada bunda, itulah hak kalian semua. Bunda dan bapak hanya menumpang mengatur rezeki kalian sebelum kalian dewasa dan kelak bisa mengatur keuangan sendiri.

Adikku semata wayang si ‘ujang kasep’ Adie… Perjuanganmu menuntaskan kuliah adalah berkah Ramadhan terindah buat teteh. Mohon maaf bila diriku belum bisa menjadi kakak yang baik. Love u so much!

Ashar yang cerah di Jakarta…Laper.Ihix…