Archive for August, 2007

Tarik Nafas

Sunday, August 19th, 2007

Hhhhhh….

Capeknyaaaaa…. Padahal 17an kemaren kagak jadi panitia apa2,tapi capek cekaleee….kebagian jatah bikin donat. Hehehehe…

Belum lagi Umar kecilku lasak nian! Mata nih mesti nambah 10 biji biar bisa ngawasin dia lebih ketat. Habis minum air mentah di bak mandi, dia guling2an di teras yang belum aku pel. Puas begitu, main pasir. Aku lengah sedikit, eh… sudah naik tangga dan ‘mendarat’ dengan ’sempurna’. Nangis tapi gak kapok! Hwaduuuuhhh…

Kalau kakaknya yang centil, mainnya kuat tapi makannya sedikit. Maunya jajan melulu. Itulah Ainun. Duh, gadis kecilku itu! Kalau selesai mandi bukannya tutup badan pakai handuk kimononya, malah jalan2 serasa peragawati kesasar. Kalau ingat berita2 kriminal sekarang ini…Nau’udzubillah! Merinding aku! Yang ada yaaa….marah2 sambil teriak, "Masuk kamar!"

Heheheheh…..repotnyaa….Bahagianya…

Capeknya!

Tambah anak lagi ah! Bikin tim Voli! hehehehe

LUPUS Tercinta!

Monday, August 6th, 2007

Nama penyakit ya?

Bukan! Itu kesayanganku yang doyan makan permen karet dengan jambul Duran-duran yang norak itu! Hehehehe…

Udah 20 tahun ya? Senangnya waktu Reuni di Bentara Budaya Jakarta tanggal 28 Juli lalu.

Ternyata aku masih bisa tertawa. Ternyata hidupku masih penuh warna (gak melulu hitam gituh!)

Twengkyuh buat mas Hilman yang bisa berimajinasi dengan karya Lupusnya. Buat bang Boim dan bang Gusur yang norak. Buat mas Wedha dengan siluet Lupusnya.

Berjuta terima kasih ya!

Anakku Sayang

Monday, August 6th, 2007

Calon Mujahid tercinta!

Apa kabarmu, nak? Masihkah engkau menyuarakan rindumu untuk bunda? Masihkah senyum itu tersisa agar bisa bunda nikmati? Masihkah pelukan hangat dan erat itu hanya untuk bunda?

Jangan menangis lagi. Maafkan bila terkadang bunda khilaf mendzolimi dirimu hingga hatimu terluka. Tatapanmu bila bulir air mata itu mengalir… Rasanya dunia bunda runtuh seketika. Anakku, apa yang harus bunda perbuat untuk menghapus duka di wajahmu? Bunda sudah minta maaf. Seharusnya bukan dirimu yang bunda bentak. Maafkan bila bunda salah.

Bunda kesal pada orang lain, kok kamu yang jadi sasaran? Ya Rabb… AmanahMu telah aku rusak…

Bila masih ada kesempatan untuk bunda memperbaiki semuanya… Bunda rela berbuat apa saja agar bisa membuatmu tersenyum kembali…

Manisnya senyum dan riangnya tawa… Kelak dewasa kau tinggalkan bunda menuju medan juang… Bersama calon syahid yang lain… Tugas bunda masih banyak untuk membentukmu menjadi sekuat Sayyidina Umar ra.

Tersenyumlah sayangku!